Banyuasin, AkselNews.com – Peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei, selalu diwarnai ribuan buruh di berbagai daerah di Indonesia turun ke jalan untuk menyuarakan hak-hak mereka yang belum terpenuhi. Demonstrasi ini menjadi simbol solidaritas buruh sekaligus ajang untuk menuntut perbaikan kondisi kerja dan peningkatan upah.
Alfi Rustam, tokoh muda dari Sumatera Selatan, dalam wawancara kemarin menyampaikan, masih banyaknya buruh yang menggelar aksi menandakan masih adanya hal-hal yang belum selesai, seperti contoh yang dikatakan Said Iqbal pada demonstrasi kemarin, tolak upah murah. Saya kira pada zaman sekarang ini, hal-hal seperti upah murah, fasilitas kerja yang tidak mumpuni, serta hak-hak kerja yang tidak terpenuhi sudah seharusnya bisa dihilangkan dari bumi Indonesia.
Menurut Alfi, buruh merupakan tulang punggung bagi Negara Indonesia.
“Dengan jumlah buruh yang hampir menyentuh angka 20 juta pada tahun 2023, buruh di Indonesia memiliki dampak besar bagi perkembangan ekonomi negara,” tambahnya.
Alfi Rustam juga berharap bahwa kedepannya buruh di Indonesia dapat mendapatkan fasilitas kerja yang lebih baik dan tidak lagi dipandang sebagai masyarakat kelas bawah.
“Fasilitas kerja buruh haruslah mumpuni, hak-haknya juga harus terpenuhi sampai mereka bisa hidup dengan sejahtera dan merdeka,” tutupnya.
Demonstrasi Hari Buruh Internasional ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mendengarkan dan memenuhi tuntutan buruh, demi terciptanya kondisi kerja yang adil dan layak bagi seluruh pekerja di Indonesia. (Arie id)