Palembang, AkselNews.com – Dalam beberapa hari terakhir, kabut asap mulai terjadi di Kota Palembang. Kabut asap sangat terasa pada pagi hari.
Meski masih terbilang tipis dan tidak menganggu pemandangan saat berkendara. Tapi kabut bau kabut asap mulai terasa pekat dan tidak enak dihirup. Kualitas udara yang mulai memburuk ini dikhawatirkan akan menganggu kesehatan.
“Yah, kalau pagi antar anak sekolah bau asap sudah mulai pekat. Tidak enak dihisap. Sekarang mulai pakai masker lagi,” ucap Fendi salah satu warga Sako Palembang.
Tapi, jika sudah mulai siang. Kabut asap tidak terlalu terasa lagi. Biasanya kabut terasa sedikit lebih tebal dan pekat pada pagi hari.
“Semoga saja bisa segera ditangani sehingga kualitas udara bisa membaik,” harapnya.
Di tempat berbeda, Kepala Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis menyebut, sejak empat hari terakhir nilai PM2.5 (partikel udara) berada di atas nilai ambang batasnya (55 ug/m3).
“Terpantau rata-rata harian berkisar 70-90 ug/m3. Artinya kondisi udara sudah tidak baik jika terhirup langsung,” katanya.
Ia pun menyebut, pada waktu tertentu udara semakin memburuk, yakni pada dini hari, berkisar di pukul 2-4 pagi, yakni mencapai lebih dari 200ug/m3.
Ia mengungkapkan, jika pada waktu itu angin bertiup tidak kencang, sehingga debu atau residu jad menumpuk.
“Pada malam hari angin tidak kencang, sehingga terjadi penumpukan debu ataupun residu pembakaran,” katanya.
Koordinator Observasi dan Informasi BMKG SMB II Palembang, Sinta Andayani menambahkan, titik hotspot di Sumsel beberapa hari terakhir mengalami peningkatan terutama di Kabupeten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir. Sehingga asap tersebut terbawa angin masuk ke Kota Palembang.
“Residu dari pembakaran tersebut menyebabkan kualitas udara di Palembang cenderung tidak sehat,” katanya.
Masker sebaik mulai digunakan saat keluar rumah, terlebih lagi pada pagi hari. Pembakaran lahan juga tidak dilakukan karena akan menambah memperburuk kualitas udara dimusim kemarau ini. (yud)

