Senin, April 15

Perjuangan Fadil Menjadi Penghafal Al-Qur’an di Pesantren Tahfidzul Qur’an Mustofa Asy’ari

Pinterest LinkedIn Tumblr +

Yogyakarta, AkselNews.com – Seorang santri Pesantren Tahfidzul Qur’an Mustofa Asy’ari, Muhammad Nur Fadil (13) atau kerap disapa Fadil, tampak sedang bergumam dengan seseorang melalui ponsel yang ia genggam.

Di waktu istirahat siang itu, Fadli ternyata menghubungi ibunya melepas rindu. Fadli juga meminta ibunya menengok dirinya akhir bulan mendatang.

Fadil saat ini duduk di bangku kelas 7 Pesantren Tahfidzul Qur’an Mustofa Asy’ari. Ketika Fadil duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar, ia berkeinginan untuk menjadi santri pondok pesantren.

“Pengen mondok karena pengen mandiri bisa merasakan hidup sendiri dan bisa menghafal Al-Qur’an,” tuturnya malu-malu, dalam rilis yang diterima AkselNews.com.

Baca Juga:   Timnas Indonesia dan Shin Tae-yong, Tiga Pesan Sang Arsitek

Sejak kecil Fadil belum merasakan sekolah berbasis tahfizh, ini kali pertamanya ia menghafal Al-Qur’an.

“Pas malam hari pertama itu nangis, keinget rumah kayak pengen pulang,” cerita singkat Fadil.

Menjadi seorang santri sudah menjadi pilihannya, sehingga apapun rintangannya akan coba ia tepis. Satu semester telah ia lewati, ia telah menghafalkan satu setengah juz Al Qur’an. Setiap pukul 07.00 hingga 12.00 WIB Fadil menghabiskan waktunya untuk belajar pelajaran sekolah formal.

Selesai sekolah, Fadil menjalani aktivitas pesantrennya mulai dari menulis Al-Qur’an hingga setoran ia tuntaskan sebagai ikhtiarnya untuk bisa menambah dan menjaga hafalannya.

Baca Juga:   Pelabuhan Tanjung Carat di Sumsel , Ini Kata Menteri BUMN Erick Thohir

Lembar demi lembar setiap harinya ia hafalkan sebagai ikhtiarnya untuk dapat membuat orang tuanya bangga. Ayah Fadil adalah seorang tukang cat perkakas melamin dan ibunya seorang ibu rumah tangga.

Fadil ingin salah satu di keluarga kecilnya hafal Al-Qur’an. Fadil ialah anak pertama yang memiliki adik laki-laki, ia juga ingin menjadi teladan bagi adiknya sebagai penghafal Al-Qur’an. Ayah, Ibu, dan adiknya rutin menyambanginya di pesantren. Setiap bulan Fadil diberi uang saku Rp200.000 tetapi tidak ia habiskan.

Baca Juga:   Optimalisasi Program E Tahfizh, Dompet Dhuafa Sumsel Lakukan Monitoring dan Evaluasi

“Uang sakunya Rp200 ribu itu tidak habis terus karena kalo di pesantren nggak pernah laundry jadi uangnya cuma buat jajan atau beli kebutuhan, kalo sisa ya disimpan,” jelasnya sambil meringis.

Tawa itu semakin lebar ketika ia diberi hadiah Al-Qur’an baru dari PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta yang bersinergi dengan Beramaljariyah.org dan Evermos.

Mulutnya tak henti mengucapkan terima kasih dan semoga Al-Qur’an baru membawa Fadil menjadi penghafal Al-Qur’an sesuai cita-citanya. Aamiin. (zal)

Share.

About Author

Redaksi Situs Berita AkselNews.com.

Leave A Reply